Kamis, 07 Juli 2022

Jenis-Jenis Algoritma Penjadwalan

 1. Non-preemptive, menggunakan konsep :

a. FIFO (First In First Out) atau FCFS (First Come First Serve)

b. SJF (Shortest Job First)

c. HRN (Highest Ratio Next)

d. MFQ (Multiple Feedback Queues)

2. Preemptive, menggunakan konsep :

a. RR (Round Robin)

b. SRF (Shortest Remaining First)

c. PS (Priority Schedulling)

d. GS (Guaranteed Schedulling)

Klasifikasi lain selain berdasarkan dapat/tidaknya suatu proses diambil secara paksa adalah klasifikasi berdasarkan adanya prioritas di proses-proses, yaitu :

1. Algoritma penjadwalan tanpa berprioritas.

2. Algoritma penjadwalan berprioritas, terdiri dari :

a. Berprioritas statis.

b. Berprioritas dinamis.

Algoritma Non-preemptive

1. First In First Out (FIFO)

First In First Out (FIFO) merupakan penjadwalan tidak berprioritas. FIFO adalah penjadwalan paling sederhana, yaitu proses-proses diberi jatah waktu pemroses berdasarkan waktu kedatangan. Pada saat proses mendapat jatah waktu pemroses, proses dijalankan sampai selesai.

Penilaian penjadwalan ini berdasarkan kriteria optimasi :

  • Adil, dalam arti resmi (proses yang datang duluan akan dilayani lebih dulu), tapi dinyatakan tidak adil karena job-job yang perlu waktu lama membuat job-job pendek menunggu. Job-job yang tidak penting dapat membuat job-job penting menunggu lama.
  • Efisiensi, sangat efisien.
  • Waktu tanggap sangat jelek, tidak cocok untuk sistem interaktif apalagi untuk sistem waktu nyata.
  • Turn around time kurang baik.

Throughtput kurang baik. FIFO jarang digunakan secara mandiri, tetapi dikombinasikan dengan skema lain.

Baik untuk sistem batch yang sangat jarang berinteraksi dengan pemakai. Contoh : aplikasi analisis numerik, maupun pembuatan tabel.

• Sangat tidak baik (tidak berguna) untuk sistem interaktif, karena tidak memberi waktu tanggap yang baik.

• Tidak dapat digunakan untuk sistem waktu nyata (real-time applications).

Contoh:

Ada tiga buah proses yang datang secara bersamaan yaitu pada 0 ms, P1 memiliki burst time 24 ms, P2 memiliki burst time 3 ms, dan P3 memiliki burst time 3 ms. Hitunglah waiting time rata-rata dan turnaround time( burst time + waiting time) dari ketiga proses tersebut dengan menggunakan algoritma FCFS. Waiting time untuk P1 adalah 0 ms (P1 tidak perlu menunggu), sedangkan untuk P2 adalah sebesar 24 ms (menunggu P1 selesai), dan untuk P3 sebesar 27 ms (menunggu P1 dan P2 selesai).

Urutan kedatangan adalah P1, P2 , P3; gantt chart untuk urutan ini adalah:

Waiting time rata-ratanya adalah sebesar(0+24+27)/3 = 17ms. Turnaround time untuk P1 sebesar 24 ms, sedangkan untuk P2 sebesar 27 ms (dihitung dari awal kedatangan P2 hingga selesai dieksekusi), untuk P3 sebesar 30 ms. Turnaround time rata-rata untuk ketiga proses tersebut adalah (24+27+30)/3 = 27 ms.

Kelemahan dari algoritma ini:

• Waiting time rata-ratanya cukup lama.

• Terjadinya convoy effect, yaitu proses-proses menunggu lama untuk menunggu 1 proses besar yang sedang dieksekusi oleh CPU. Algoritma ini juga menerapkan konsep non-preemptive, yaitu setiap proses yang sedang dieksekusi oleh CPU tidak dapat di-interrupt oleh proses yang lain.

Misalkan proses dibalik sehingga urutan kedatangan adalah P3, P2, P1. Waiting time adalah P1=6; P2=3; P3=0. Average waiting time: (6+3+0)/3=3.

2. Shortest Job First (SJF)

Penjadwalan ini mengasumsikan waktu berjalannya proses sampai selesai telah diketahui sebelumnya. Mekanismenya adalah menjadwalkan proses dengan waktu jalan terpendek lebih dulu sampai selesai, sehingga memberikan efisiensi yang tinggi dan turn around time rendah dan penjadwalannya tak berprioritas.

Contoh :

Terdapat empat proses (job) yaitu A,B,C,D dengan waktu jalannya masing-masing adalah 8,4,4 dan 4 menit. Apabila proses-proses tersebut dijalankan, maka turn around time untuk A adalah 8 menit, untuk B adalah 12, untuk C adalah 16 dan untuk D adalah 20. Apabila keempat proses tersebut menggunakan penjadwalan shortest job fisrt, maka turn around time untuk B adalah 4, untuk C adalah 8, untuk D adalah 12 dan untuk A adalah 20.

Karena SJF selalu memperhatikan rata-rata waktu respon terkecil, maka sangat baik untuk proses interaktif. Umumnya proses interaktif memiliki pola, yaitu menunggu perintah, menjalankan perintah, menunggu perintah dan menjalankan perintah, begitu seterusnya. Masalah yang muncul adalah tidak mengetahui ukuran job saat job masuk. Untuk mengetahui ukuran job adalah dengan membuat estimasi berdasarkan kelakukan sebelumnya. Prosesnya tidak datang bersamaan, sehingga penetapannya harus dinamis. Penjadwalan ini jarang digunakan karena merupakan kajian teoritis untuk pembandingan turn around time.

3. Highest Ratio Next (HRN)

Highest Ratio Next merupakan strategi penjadwalan dengan prioritas proses tidak hanya berdasarkan fungsi waktu layanan tetapi juga jumlah waktu tunggu proses. Begitu proses mendapat jatah pemroses, proses berjalan sampai selesai.

Prioritas dinamis HRN dihitung berdasarkan rumus : Prioritas = (waktu tunggu + waktu layanan ) / waktu layanan Karena waktu layanan muncul sebagai pembagi, maka job lebih pendek berprioritas lebih baik, karena waktu tunggu sebagai pembilang maka proses yang telah menunggu lebih lama juga mempunyai kesempatan lebih bagus. Disebut HRN, karena waktu tunggu ditambah waktu layanan adalah waktu tanggap, yang berarti waktu tanggap tertinggi yang harus dilayani.

4. Multilevel Feedback Queue (MFQ)

Algoritma ini mirip sekali dengan algoritma multilevel queue. Perbedaannya ialah algoritma ini mengizinkan proses untuk pindah antrian. Jika suatu proses menyita CPU terlalu lama, maka proses itu akan dipindahkan ke antrian yang lebih rendah. Hal ini menguntungkan proses interaksi karena proses ini hanya memakai waktu CPU yang sedikit. Demikian pula dengan proses yang menunggu terlalu lama. Proses ini akan dinaikkan tingkatannya. Biasanya prioritas tertinggi diberikan kepada proses dengan CPU burst terkecil, dengan begitu CPU akan terutilisasi penuh dan M/K dapat terus sibuk. Semakin rendah tingkatannya, panjang CPU burst proses juga semakin besar.

Algoritma ini didefinisikan melalui beberapa parameter, antara lain:

  • Jumlah antrian.
  • Algoritma penjadwalan tiap antrian.
  • Kapan menaikkan proses ke antrian yang lebih tinggi.
  • Kapan menurunkan proses ke antrian yang lebih rendah.
  • Antrian mana yang akan dimasuki proses yang membutuhkan.

Dengan pendefinisian seperti tadi membuat algoritma ini sering dipakai, karena algoritma ini mudah dikonfigurasi ulang supaya cocok dengan sistem. Tapi untuk mengatahui mana penjadwal terbaik, kita harus mengetahui nilai parameter tersebut.

Multilevel feedback queue adalah salah satu algoritma yang berdasar pada algoritma multilevel queque. Perbedaan mendasar yang membedakan multilevel feedback queque dengan multilevel queque biasa adalah terletak pada adanya kemungkinan suatu proses berpindah dari satu antrian ke antrian lainnya, entah dengan prioritas yang lebih rendah ataupun lebih tinggi, misalnya pada contoh berikut.

  • Semua proses yang baru datang akan diletakkan pada queque 0 ( quantum= 8 ms).
  • Jika suatu proses tidak dapat diselesaikan dalam 8 ms, maka proses tersebut akan dihentikan dan dipindahkan ke queque 1 ( quantum= 16 ms).
  • Queque 1 hanya akan dikerjakan jika tidak ada lagi proses di queque 0, dan jika suatu proses di queue 1 tidak selesai dalam 16 ms, maka proses tersebut akan dipindahkan ke queque 2.
  • Queque 2 akan dikerjakan bila queque 0 dan 1 kosong, dan akan berjalan dengan algoritma FCFS.

Disini terlihat bahwa ada kemungkinan terjadinya perpindahan proses antar queue, dalam hal ini ditentukan oleh time quantum, namun dalam prakteknya penerapan algoritma multilevel feedback queue akan diterapkan dengan mendefinisikan terlebih dahulu parameter-parameternya, yaitu:

  • Jumlah antrian.
  • Algoritma internal tiap queque.
  • Aturan sebuah proses naik ke antrian yang lebih tinggi.
  • Aturan sebuah proses turun ke antrian yang lebih rendah.
  • Antrian yang akan dimasuki tiap proses yang baru datang.

Contoh: Terdapat tiga antrian; Q1=10 ms, FCFS Q2=40 ms, FCFS Q3=FCFS proses yang masuk, masuk ke antrian Q1. Jika dalam 10 ms tidak selesai, maka proses tersebut dipindahkan ke Q2. Jika dalam 40 ms tidak selesai, maka dipindahkan lagi ke Q3. Berdasarkan hal-hal di atas maka algoritma ini dapat digunakan secara fleksibel dan diterapkan sesuai dengan kebutuhan sistem. Pada zaman sekarang ini algoritma multilevel feedback queue adalah salah satu yang paling banyak digunakan.

Algoritma Preemptive

1. Round Robin(RR)

Algoritma ini menggilir proses yang ada di antrian. Proses akan mendapat jatah sebesar time quantum. Jika time quantum-nya habis atau proses sudah selesai, CPU akan dialokasikan ke proses berikutnya. Tentu proses ini cukup adil karena tak ada proses yang diprioritaskan, semua proses mendapat jatah waktu yang sama dari CPU yaitu (1/n), dan tak akan menunggu lebih lama dari (n-1)q dengan q adalah lama 1 quantum.

Algoritma ini sepenuhnya bergantung besarnya time quantum. Jika terlalu besar, algoritma ini akan sama saja dengan algoritma first come first served. Jika terlalu kecil, akan semakin banyak peralihan proses sehingga banyak waktu terbuang.

Permasalahan utama pada Round Robin adalah menentukan besarnya time quantum. Jika time quantum yang ditentukan terlalu kecil, maka sebagian besar proses tidak akan selesai dalam 1 quantum. Hal ini tidak baik karena akan terjadi banyak switch, padahal CPU memerlukan waktu untuk beralih dari suatu proses ke proses lain (disebut dengan context switches time). Sebaliknya, jika time quantum terlalu besar, algoritma Round Robin akan berjalan seperti algoritma first come first served. Time quantum yang ideal adalah jika 80% dari total proses memiliki CPU burst time yang lebih kecil dari 1 time quantum.

2. Shortest Remaining First (SRF)

Merupakan :

• Penjadwalan berprioritas dinamis.

• Preemptive untuk timesharing.

• Melengkapi SJF.

Pada SRF, proses dengan sisa waktu jalan diestimasi terendah dijalankan, termasuk proses-proses yang baru tiba. Pada SJF, begitu proses dieksekusi, proses dijalankan sampai selesai. Pada SRF, proses yang sedang berjalan (running) dapat diambil alih proses baru dengan sisa waktu jalan yang diestimasi lebih rendah.

Kelemahan :

• Mempunyai overhead lebih besar dibanding SJF. SRF perlu penyimpanan waktu layanan yang telah dihabiskan job dan kadang-kadang harus menangani peralihan.

• Tibanya proses-proses kecil akan segera dijalankan.

• Job-job lebih lama berarti dengan lama dan variasi waktu tunggu lebih lama dibanding pada SJF.

SRF perlu menyimpan waktu layanan yang telah dihabiskan , menambah overhead. Secara teoritis, SRF memberi waktu tunggu minimum tetapi karena overhead peralihan, maka pada situasi tertentu SFJ bisa memberi kinerja lebih baik dibanding SRF.

3. Priority Scheduling(PS)

Priority Scheduling merupakan algoritma penjadwalan yang mendahulukan proses yang memiliki prioritas tertinggi. Setiap proses memiliki prioritasnya masing-masing.

Prioritas suatu proses dapat ditentukan melalui beberapa karakteristik antara lain:

  • Time limit.
  • Memory requirement.
  • Akses file.
  • Perbandingan antara burst M/K dengan CPU burst.
  • Tingkat kepentingan proses.

Priority scheduling juga dapat dijalankan secara preemptive maupun non-preemptive. Pada preemptive, jika ada suatu proses yang baru datang memiliki prioritas yang lebih tinggi daripada proses yang sedang dijalankan, maka proses yang sedang berjalan tersebut dihentikan, lalu CPU dialihkan untuk proses yang baru datang tersebut. Sementara itu, pada non-preemptive, proses yang baru datang tidak dapat mengganggu proses yang sedang berjalan, tetapi hanya diletakkan di depan queque.

Kelemahan pada priority scheduling adalah dapat terjadinya indefinite blocking(starvation). Suatu proses dengan prioritas yang rendah memiliki kemungkinan untuk tidak dieksekusi jika terdapat proses lain yang memiliki prioritas lebih tinggi darinya.

Solusi dari permasalahan ini adalah aging, yaitu meningkatkan prioritas dari setiap proses yang menunggu dalam queque secara bertahap.

Contoh: 

Setiap 10 menit, prioritas dari masing-masing proses yang menunggu dalam queque dinaikkan satu tingkat. Maka, suatu proses yang memiliki prioritas 127, setidaknya dalam 21 jam 20 menit, proses tersebut akan memiliki prioritas 0, yaitu prioritas yang tertinggi (semakin kecil angka menunjukkan bahwa prioritasnya semakin tinggi).

4. Guaranteed Schedulling (GS)

Penjadwalan ini memberikan janji yang realistis (memberi daya pemroses yang sama) untuk membuat dan menyesuaikan performance adalah jika ada N pemakai, sehingga setiap proses (pemakai) akan mendapatkan 1/N dari daya pemroses CPU. Untuk mewujudkannya, sistem harus selalu menyimpan informasi tentang jumlah waktu CPU untuk semua proses sejak login dan juga berapa lama pemakai sedang login. Kemudian jumlah waktu CPU, yaitu waktu mulai login dibagi dengan n, sehingga lebih mudah menghitung rasio waktu CPU. Karena jumlah waktu pemroses tiap pemakai dapat diketahui, maka dapat dihitung rasio antara waktu pemroses yang sesungguhnya harus diperoleh, yaitu 1/N waktu pemroses seluruhnya dan waktu pemroses yang telah diperuntukkan proses itu. Rasio 0,5 berarti sebuah proses hanya punya 0,5 dari apa yang waktu CPU miliki dan rasio 2,0 berarti sebuah proses hanya punya 2,0 dari apa yang waktu CPU miliki. Algoritma akan menjalankan proses dengan rasio paling rendah hingga naik ke tingkat lebih tinggi diatas pesaing terdekatnya. Ide sederhana ini dapat diimplementasikan ke sistem real-time dan memiliki penjadwalan berprioritas dinamis.

sumber: http://raudatulatun.blogspot.com/2014/10/jenis-algoritma-berdasarkan-penjadwalan.html?m=1


Konkurensi

Konkurensi adalah proses-proses (lebih dari satu proses) yang terjadi pada saat bersamaan. Konkurensi merupakan landasan umum perancangan sistem operasi. Proses-proses disebut konkuren jika proses-proses berada pada saat yang sama. Pada proses-proses konkuren yang berinteraksi mempunyai beberapa masalah yang harus diselesaikan:

1. Mutual Exclusion

2. Sinkronisasi

3. Deadlock

4. Startvation


A. Prinsip-prinsip Konkurensi

Konkurensi meliputi hal-hal sbb:

• Alokasi waktu pemroses untuk proses-proses

• Pemakaian bersama dan persaingan untuk mendapatkan sumber daya

• Komunikasi antarproses

• Sinkronisasi aktivitas banyak proses.


Konkurensi dapat muncul pada konteks berbeda, antara lain:

1. Banyak aplikasi (multiple application).

Multiprogramming memungkinkan banyak proses sekaligus dijalankan. Proses-proses dapat berasal dari aplikasi-aplikasi berbeda. Pada sistem multiprogramming bisa terdapat banyak aplikasi sekaligus yang dijalankan di sistem komputer.

2. Aplikasi terstruktur.

Perluasan prinsip perancangan modular dan pemrograman terstruktur adalah suatu aplikasi dapat secara efektif diimplementasikan sebagai sekumpulan proses. Dengan sekumpulan proses, maka tiap proses menyediakan satu layanan spesifik tertentu.

3. Struktur sistem operasi.

Keunggulan strukturisasi dapat juga diterapkan ke pemrograman sistem. Beberapa sistem operasi aktual yang dipasarkan dan yang sedang dalam riset telah diimplementasikan sebagai sekumpulan proses. Sistem operasi bermodelkan client/server menggunakan pendekatan ini.

4. Untuk Strukturisasi Satu Proses.

Saat ini untuk peningkatan kinerja maka satu proses dapat memiliki banyak thread yang independen. Thread-thread tersebut harus dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan proses.


B. Interaksi Antar Proses. 

Pada sistem dengan banyak proses (kongkuren), terdapat 2 katagori interaksi, yaitu:

1. Proses-proses Saling Tidak Peduli (Independen).

Proses-proses ini tidak dimaksudkan untuk bekerja untukmencapai tujuan tertentu. Pada multiprogramming dengan proses-proses independen, dapat berupa batch atau sesi interaktif, atau campuran keduanya.

2. Proses-proses Saling Mempedulikan Secara Tidak Langsung.

Proses-proses tidak perlu saling mempedulikan identitas proses-proses lain, tapi sama-sama mengakses objek tertentu, seperti buffer masukan/keluaran. Proses-proses itu perlu bekerja sama (cooperation) dalam memakai bersama objek tertentu.


C. Kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan konkurensi

Masalah yang dihadapi proses-proses kongkurensi pada multiprogramming dan multiprocessing serupa, yaitu: kecepatan eksekusi proses-proses di sistem tidak dapat diprediksi. Beberapa kemungkinan yang terjadi tidak dapat diprediksi seperti:

1. Kecepatan proses pada sistem tergantung pada beberapa hal, antara lain:

a) Aktivitas proses-proses lain

b) Cara sistem operasi menangani interupsi

c) Kebijaksanaan penjadwalan yang dilakukan oleh sistem operasi.

2. Beberapa kesulitan yang dapat muncul, di antaranya adalah:

a) Pemakaian bersama sumber daya global.

Jika dua proses menggunakan variabel global yang sama, serta keduanya membaca dan menulis variabel itu maka urutan terjadinya pembacaan dan penulisan terhadap variabel itu menjadi kritis.

b) Pengelolaan alokasi sumber daya agar optimal

Jika proses A meminta suatu kanal masukan/keluaran tertentu dan dapat terjadi kemudian proses A di suspend sebelum menggunakan kanal itu. Jika sistem operasi mengunci kanal tersebut dan orang lain tidak dapat menggunakannya, maka akan terjadi inefisiensi.

c) Pencarian kesalahan pemrograman.

Pencarian kesalahan pada pemrograman kongkuren lebih sulit dibanding pencarian kesalahan pada program-program sekuen.

3. Proses-proses konkuren mengharuskan beberapa hal yang harus ditangani, antara lain:

a) Sistem operasi harus mengetahui proses-proses yang aktif

b) Sistem operasi harus mengalokasikan dan mendealokasikan beragam sumber daya untuk tiap proses aktif. Sumber daya yang harus dikelola, antara lain:

(1) Waktu pemroses.

(2) Memori

(3) Berkas-berkas

(4) Perangkat I/O

c) Sistem operasi harus memproteksi data dan sumber dan fisik masing-masing proses dari gangguan proses-proses lain.

d) Hasil-hasil proses harus independen terhadap kecepatan relatif proses-proses lain dimana eksekusi dilakukan.


D. Pokok Penyelesaian Masalah Kongkurensi

Pada dasarnya penyelesaian masalah kongkurensi terbagi menjadi 2, yaitu:

1. Mengasumsikan adanya memori yang digunakan bersama

2. Tidak mengasumsikan adanya memori yang digunakan bersama.

Adanya memori bersama lebih memudahkan penyelesaian masalah kongkurensi. Metode memori bersama dapat dipakai untuk singleprocessor ataupun multiprocessor yang mempunyai memori bersama. Penyelesaian ini tidak dapat digunakan untuk multiprocessor tanpa memori bersama atau untuk sistem tersebar.

sumber: https://manajemenmemory.blogspot.com/2010/10/konkurensi.html?sc=1657254247833&m=1#c316045548144618104

Macam-macam Struktur Dasar Algoritma

 Algoritma terdapat tiga buah struktur dasar yang digunakan dalam menyusun algoritma, yaitu:

1. Sekuensial (runtunan),

2. Seleksi,

3. Perulangan.

1. Sekuensial (runtunan)

Pada struktur sekuensial, langkah-langkah yang digunakan dalam algoritma diproses secara berurutan sebagaimana diperlihatkan pada gambar dibawah ini:

2.stuktur Seleksi

Struktur seleksi menyatakan pemilihan langkah yang didasarkan oleh suatu kondisi(pengambilan keputusan), gambar di bawah ini memperlihatkan diagram alir struktur seleksi yang melibatkan dua alternatif. Dalam hal ini simbol belah ketupat digunakan untuk mewakili langkah pengambilan keputusan.



Pada strukrur diatas, langkah 1 hanya akan dijalankan jika kondisi bernilai benar, sedangkan langkah 2 hanya akan dijalankan jika kondisi bernilai salah.

3.struktur perulangan

Perulangan menyatakan suatu tindakan atau langkah yang dijalankan beberapa kali.

Sebagai contoh , jika anda ingin menampilkan 10 tulisan “selamat bertugas”,anda akan menuliskannya dengan menggunakan struktur sekuensial, itu berarti bahwa anda memberikan 10 instruksi untuk menulikan kesepuluh tulisan tersebut.

Cara seperti itu memang praktis untuk jumlah pengulangan yang sedikit(misalnya 2 / 3 buah pengulangan), tetapi tidak cocok untuk jumlah yang besar. Agar lebih praktis, Anda akan menggunakan struktur pengulangan.

Berikut struktur pengulangan:



Sumber: http://risti-oktaviani.blogspot.com/2014/01/macam-struktur-dasar-algoritma.html?m=1

Rabu, 06 Juli 2022

Pengelompokan dan Klasifikasi Komputer

 Jenis-jenis Komputer Berdasarkan Data yang Diolah:

1. Komputer Analog

Komputer analog atau dalam bahasa Inggris disebut analog computer adalah komputer yang beroperasi secara paralel/analog untuk mengolah program dan data yang bersifat kontinyu, data berupa kuantitatif (temperatur, tekanan udara, arus listrik dsb). Komputer jenis ini kerapkali digunakan dalam pengendalian industri berbasiskan kimia, penyulingan minyak, pembangkit listrik serta bagian rumah sakit yaitu untuk memantau denyut jantung pasien.

Kelebihan dari komputer analog:


  • Pengolahan data yang cepat
  • Dapat melakukan pengontrolan secara otomatis pada proses industri
  • Hasil data pengukuran yang akurat
  • Disebut sebagai komputer dengan label special-purpose
  • Dapat melakukan representasi terhadap besaran yang akan atau sudah diproses dengan rentang nilai tertentu yang telah disesuaikan dengan nilai besarannya
Kekurangan dari komputer analog:

  • Saat melakukan pemrosesan terkadang kurang tepat
  • Tidak terstruktur dan kurang multifungsi sehingga terbatas pada pemakaian tertentu
  • Hanya dapat digunakan untuk memecahkan suatu masalah yang spesifik (khusus)
  • Kurang akurat untuk memproses data ataupun program yang notabene merupakan angka-angka
  • Memiliki komponen yang cukup banyak sehingga tidak efisien
2. Komputer Digital

Komputer digital atau digital computer adalah komputer yang beroperasi berdasarkan hitungan. Sebagaimana fungsi utamanya yaitu untuk operasi hitung, komputer jenis ini memiliki variabel berupa angka-angka. Penyelesaian masalah pada komputer digital adalah menggunakan proses logik atau kuantitatif dan proses aritmatik. Komputer jenis digital ini biasanya digunakan untuk keperluan aplikasi bisnis serta juga digunakan dalam hal teknik.

Kelebihan dari komputer digital:

  • Keakuratan memproses data yang lebih besar dibanding komputer analog
  • Dapat melakukan aktivitas operasi logika dengan membandingkan dua buah nilai serta menentukan hasilnya
  • Dapat melakukan penyimpanan data
  • Dapat melakukan editing terhadap data yang telah dimasukkan
  • Data yang dihasilkan dari komputer ini dapat berupa huruf, angka, grafik maupun angka
3. Komputer Hybrid

Komputer hybrid atau hybrid computer adalah komputer yang beroperasi secara kuantitatif dan kualitatif. Komputer jenis hybrid ini merupakan wujud gabungan antara komputer analog dan juga digital. Komputer ini bekerja secara kualitatif dan juga kuantitatif karena pada dasarnya mengusung dua peran sekaligus yang diwakilkan dari masing-masing fungsi komputer analog dan digital.

Kelebihan dari komputer hybrid:
  • Lebih cepat dalam memroses data dibandingkan komputer digital.
  • Lebih tepat dalam memroses data dibandindingkan komputer analog.
Komputer Berdasarkan Penggunaannya(Special Purpose Computer)

  1. Special purpose computer berarti komputer untuk keperluan khusus. Komputer ini dirancang hanya untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu. Perangkat yang ada pada komputer ini, baik komponen input, output, pemroses serta softwarenya telah dirancang untuk keperluan tersebut. Biasanya software yang mengendalikan proses sudah berada langsung pada sistem. Contoh dari Special Purpose Computer ini adalah komputer yang digunakan untuk kasir pada supermarket.
  2. General purpose computer merupakan komputer yang dibuat untuk keperluan secara umum, sehingga komputer tersebut dapat digunakan untuk mengerjakan berbagai macam pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan usernya. Personal Computer merupakan salah satu contoh dari kategori ini.
Komputer berdasarkan skala penggunaannya
  1. Smale scale computer atau Komputer skala kecil, merupakan komputer yang memiliki kemampuan proses dalam jumlah kecil. Komputer yang termasuk ke dalam kategori ini adalah komputer desktop atau komputer pribadi yang umumnya digunakan oleh satu orang pada satu saat.
  2. Medium scale komputer atau Komputer skala menengah. Komputer yang termasuk ke dalam kategori ini adalah komputer mini, yang biasanya melayani penggunanya pada dumb terminal.
  3. Large scale komputer atau Komputer skala besar. Komputer yang termasuk ke dalam kategori ini adalah komputer mainframe. Pada mesin tersebut dapat diakses beramai-ramai, dan sudah dilengkapi dengan perangkat dan software yang lengkap. Penggunaannya pun adalah untuk pengolahan perhitungan dengan kemampuan yang cukup rumit untuk diselesaikan oleh komputer medium dan small.
sumber: https://educkom.wordpress.com/materi/jenis-jenis-komputer-berdasarkan-data-yang-diolah/ diakses pada 6 Juli 2022 pukul 21.04

Senin, 04 Juli 2022

Pencatatan Buku Besar Perusahaan Jasa

 


Mencatat transaksi ke jurnal

Sistem pencatatan dilakukan menggunakan mekanisme debit dan kredit. Yang artinya, penambahan atau pengurangan terhadap masing-masing akun, sebagai akibat atau pengaruh dari suatu transaksi, ditunjukkan dengan mendebit atau mengkredit akun terkait.

 

Mekanisme Debit dan Kredit

 

Kenaikan

(Saldo Normal)

Penurunan

Akun Neraca:

 

 

Aktiva

Debit

Kredit

     Akumulasi Penyusutan

Debit

Kredit

Kewajiban

Kredit

Debit

Modal

Kredit

Debit

     Prive

Debit

Kredit

 

 

 

Akun Laporan Laba Rugi:

 

 

Pendapatan

Kredit

Debit

Beban

Debit

Kredit

Penjurnalan adalah suatu proses pencatatan suatu transaksi ke dalam jurnal. Sebelum melakukan penjurnalan, kita harus terlebih dahulu menganalisis pengaruh masing-masing transaksi terhadap akun-akun, antara lain aktiva, hutang, modal, pendapatan dan beban.

Bentuk Jurnal

JURNAL

(DALAM RIBUAN RUPIAH)

Halaman

Tanggal

Keterangan

Ref.

Debit

Kredit

 

 

 

 

 

 

(1)

 

(2)

(3)

(4)

(5)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ket:

Kolom (1): Mencatat tanggal transaksi.

Kolom (2): Mencatat nama akun-akun yang berkaitan dengan transaksi.

Kolom (3): Mencatat nomor dan kode akun.

Kolom (4): Mencatat jumlah yang harus didebit.

Kolom (5): Mencatat jumlah yang harus dikredit.

 

Contoh:

Selama bulan Desember 2002, Salon Susi memiliki transaksi-transaksi sebagai berikut.

Des 5 Dibeli peralatan salon secara tunai dari Toko aneka seharga Rp. 6.000.000. Dibayar gaji pegawai sebesar Rp. 2.000.000. Meminjam uang kepada bank sebesar Rp. 10.000.000. Pemilik menyetor modal uang Rp. 30.000.000.

Buatlah Jurnal atas transaksi-transaksi diatas!

 

Jawaban:

JURNAL

(DALAM RIBUAN RUPIAH)

Halaman

Tanggal

Keterangan

Ref.

Debit

Kredit

2002

5

Peralatan (bertambah)

111

(+) 6.000

 

Des.

 

     Kas (berkurang)

101

 

(-) 6.000

 

 

Pembelian peralatan sablon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

Beban Gaji (bertambah)

501

(+) 2.000

 

 

 

     Kas (berkurang)

101

 

(+) 2.000

 

 

Pembayaran gaji pegawai

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

Kas (bertambah)

101

(+) 10.000

 

 

 

     Hutang (bertambah)

201

 

(-) 10.000

 

 

Meminjam uang dari bank

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15

Kas (bertambah)

101

(+) 30.000

 

 

 

     Modal ekuitas (bertambah)

301

 

(+) 30.000

 

 

Pengeluaran Modal

 

 

 

 MEMINDAH BUKUKAN JURNAL KE BUKU BESAR

Pemindahbukuan (posting) merupakan pemindahan catatan dari jurnal ke akun-akun pada buku besar secara periodik. Buku besar merupakan buku berisikan kumpulan akun-akun yang saling berhubungan dan merupakan satu-kesatuan tersendiri.

Prosedur pemindah bukuan:

1.      Pindahkan tanggal pada jurnal ke kolom tanggal pada akun-akun bersangkutan.

2.      Pindahkan tanggal pada jurnal ke kolom tanggal pada akun-akun bersangkutan.

3.      Pindahkan halaman jurnal ke kolom Ref. Pada akun bersangkutan.

4.      Pindahkan jumlah debit dari jurnal ke kolom debit akun bersangkutan dan jumlah kredit dari jurnal ke kolom kredit akun bersangkutan.

 

BENTUK BUKU BESAR

AKUN KAS (Dalam ribuan rupiah)                                                                            Akun no.

Tanggal

Keterangan

Ref.

Debit

Kredit

Saldo

Kredit

Debit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

Kolom (1): Mencatat tanggal terjadinya transaksi.

Kolom (2): Mencatat jenis transaksi.

Kolom (3): Mencatat nomor halaman jurnal.

Kolom (4): Mencatat akun yang didebit.

Kolom (5): Mencatat akun yang dikredit.

Kolom (6): Mencatat saldo akhir.